Frambusia dapat juga disebut patek atau puru dalam bahasa Inggris disebut yaws, yang merupakan penyakit kulit kronis dari kelompok infeksi bakteri yang biasa dikenal sebagai treponemaosis endemic. Bakteri penyebab frambusia ini merupakan subspecies (golongan) Treponema Pallidum yang secara umum berkaitan dengan bakteri T.pallidium yang merupakan agen penyebab sifilis dan bakteri penyebab sifilis endemic (bejel) dan pinta (penyakit kulit manusia). Frambusia ini merupakan penyakit menular menahun yang dapat dengan mudah disembuhkan, apabila ditemukan secara dini serta dilakukan pengobatan/penanganan dengan cepat dan tepat. Sehingga dapat mencegah terjadinya kecacatan tetap.

Frambusia seringkali ditemukan terutama dimasyarakat dengan tingkat ekonomi rendah di daerah tropis yang hangat dan lembab. Penyakit ini bisa menyebar dengan mudah pada kondisi social-ekonomi rendah dan kebersihan pribadi yang buruk. Hampir semua kasus frambusia dimulai dari anak-anak di bawah umur 15 tahun dengan puncaknya pada usia 6-10 tahun. Penyakit ini biasanya menyerupai luka (lesi) yang tampak seperti benjolan pada kulit wajah, tangan, kaki dan pada area genital. Paling sering dimulai sebagai luka tunggal yang kemudian bisa meningkat dan berkembang menjadi kerak yang sedikit melebar, meninggalkan dasar dengan tekstur (bentuk) seperti rasberry atau strowberi. Penyakit ini ditilarkan melalui kontak langsung dari orang ke orang) dari luka ringan, sabagian besar luka terjadi pada anggota badan. Luka awal frambusia ini memiliki masa inkubasi antara 9-90 hari, dengan rata-rata 21 hari.

Frambusia memiliki empat tahapan dalam perjalanan dan perkembangannnya yaitu pada tahap uatamanya disebut tahap primer (penampilan ibu yaw). Pada tahap ini ditandai dengan luka yang menonjol berbentuk seperti strowberi dengan kerak kuning tipis (lesi papillomatous) yang muncul ditempat di mana organisme (bakteri) memasuki tubuh pada masa perkembangbiakan, biasanya di kaki. Hal ini biasanya terjadi pada anak usia dini dengan kejadian puncak sekitar 6 tahun. Pasien dengan frambusia yang mengembangkan luka berulang (sekunder) dan kelenjar getah bening yang membengkak merupakan tahap kedua dari frambusia. Hal ini memang tidak membuat sakit tetapi menyebabkan rasa gatal.

Tahapan kedua ini disebut dengan tahapan sekunder yang biasanya terjadi beberapa minggu atau beberapa bulan ke depan setelah munculnya gejala awal. Pada luka (lesi) sekunder dengan ruam (kemerahan) ini mungkin tidak menimbulkan rasa sakit seperti ibu yaw, tetapi kemungkinan bisa berbentuk nanah, pecah dan membentuk bisul. Luka kulit biasanya muncul pada wajah, kaki, lengan dan atau di sekitar rectum (anus) atau alat kelamin. Biasanya bisa sembuh secara perlahan, namun bisa muncul kembali (kambuh). Luka pada bagian telapak kaki bisa menimbulkan retak dan ulserasi (luka terbuka) yang bisa lebih menyakitkan (keratosis atau benjolan kulit) yang kemudian dapat menyebabkan jalan “kepiting seperti canggung” atau “kepiting yaws”. Tahap ini kelenjar getah bening menjadi bengkak dan ruam (kemerahan) bisa menjadi kerak coklat. Pasien yang berada pada tahap ini nsering kali mengalami malaise (kelelahan) dan anoreksia (kehilangan nafsu makan).

Tahapan ketiga disebut dengan tahap laten yang terjadi ketika gejala mereda, meskipun kadang-kadang sering terjadi luka. Pada tahapan laten ini sering terjadi ulkus atau nodul (benjolan luka) yang menyebabkan nyeri serta kerusakan wajah, hal ini bisa mengganggu fungsi sendi serta mobilitas (aktifitas). Tidak jarang juga dapat menghasilkan sindrom (gejala-gejala) yang berbeda-beda. Pertama dikenal dengan sindrom goundou yang ditandai dengan pembengkakan pada jaringan sekitar hidung (pembengkakan paranassal) serta pertumbuhan berlebih tulang didaerah wajah yang sama (osteitis hipertrofik). Adapun yang lainnya disebut dengan sindrom (rhinopharyngitis mutilans), ditandai dengan perubahan degeneratif hidung, tenggorokan (faring), dan atap mulut (palatum keras).

Tahapan yang keempat disebut dengan tahap tersier yang dapat menghancurkan area kulit, tulang, dan sendi dan merusaknya dengan menimbulkan rasa nyeri pada persendian dan atau tulang. Adapun gejala lain yang kemungkinan bisa muncul adalah meliputi sakit tulang, adanya jaringan parut pada kulit, terjadi pembengkakan tulang dan jari yang mana pada tahap lanjutan bisa menyebabkan kecacatan dan parah apabila tidak segera mendapatkan pengobatan antibiotic.

BACA JUGA

Pemeriksaan frambusia tahap 1 dan 2 bisa dilakukan dengan cara pengambilan sampel jaringan dari luka kulit yang terkena frambusia. Kemudian untuk pemeriksaan frambusia tahap selanjutnya bisa dilakukan dengan cara tes serum darah khusus. Namun paling sering dapat ditentukan dengan temuan gejala klinis.
Pengobatan yang dapat dilakukan dengan cara pemberian antibiotic dengan dosis yang sesuai dengan tahapan penyakit dan dengan pantauan dokter. Selain pengobatan beberapa cara pencegahan juga perlu dilakukan, yaitu dengan menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Agar tidak memperparah tingkat penyebaran frambusia.

Tingkat kesembuhan frambusia tergantung dari keefektifan pengobatan. Jika frambusia ditangani sebelum terjadi perkembangan tahap tersier, kecil kemungkinan terjadi komplikasi atau bahkan tidak sampai menimbulkan komplikasi. Namun, jika sudah sampai mencapai tahap perkembangan tersier maka tingkat keparahan tergantung pada tingkat keparahan komplikasi.

Berapa Biaya Pengobatan Frambusia ? Konsultasi
Apakah Harus Perawatan Yang Khusus ? Konsultasi
Berapa Lama Waktu Penyembuhannya ? Konsultasi
Apakah Setelah Berobat Dapat Kambuh Lagi ? Konsultasi
Klinik Pandawa didirikan dengan berbadan hukum PT. PANDAWA MITRA MEDIKA dengan ijin NOMOR. 3/B.6.0/31.71.02/-1.779.3/2017. Operasional dari PTSP DKI Jakarta Pusat dan Dinas Kesehatan Jakarta Pusat. Klinik Pandawa ini didirikan oleh beberapa orang dokter yang berpengalaman, serta ahli terhadap kasus-kasus penyakit yang erat kaitannya dengan masalah Penyakit kelamin, Kulit, Bedah umum, dan Perawatan organ reproduksi pria (Andrologi), wanita (Ginekologi) perempuan, orang tua, atau orang muda termasuk anak-anak.